Mencegah Stunting Memajukan Bangsa
A. Definisi Stunting
Kejadian balita pendek atau sering disebut stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih kurang dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO (Dewi & Primadewi, 2021). Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Keadaan ini diperparah dengan tidak terimbanginya kejar tumbuh (catch up growth) yang memadai. Balita pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak, hasil pengukuran terberat berada pada ambang batas (Z-Score) < -2 SD sampai dengan -3 SD (pendek/stunted) dan < -3 SD (sangat pendek/ severely stunted) (Kemenkes RI, 2022).
B. Ciri Tubuh Stunting
Ciri utama stunting adalah tinggi badan anak yang lebih pendek dari seharusnya untuk usianya. Pengukuran ini sering diukur dengan indeks pertumbuhan anak. Anak-anak yang mengalami stunting mungkin memiliki berat badan yang tidak proporsional terhadap tinggi badan mereka, menciptakan kesan kurus. Stunting dapat memengaruhi perkembangan otak dan kognitif anak, yang dapat berdampak pada kemampuan belajar dan pemahaman. Anak-anak yang mengalami stunting dapat memiliki daya tahan tubuh yang rendah, membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit dan infeksi. Gejala stunting menurut (kemenkes, 2017)
1. Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
2. Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk seusianya
3. Berat badan rendah untuk anak seusianya
4. Pertumbuhan tulang tertunda.
5. Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya
6. Pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat
7. Memiliki kemampuan fokus dan memori belajar yang buruk
8. Pubertas yang lambat
9. Saat menginjak usia 8-10 tahun, anak cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang sekitarnya
10. Berat badan lebih ringan untuk anak seusianya
C. Dampak Stunting
Masalah gizi terutama masalah balita stunting dapat menyebabkan proses tumbuh kembang menjadi terhambat, dan memiliki dampak negatif yang akan berlangsung untuk kehidupan selanjutnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa balita pendek sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang kurang dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa. Menurut WHO (2018), dampak yang terjadi akibat stunting dibagi menjadi dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.
1. Dampak jangka pendek, yaitu Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian, Perkembangan kognitif, motorik dan verbal pada anak tidak optimal, dan Peningkatan biaya kesehatan
2. Dampak jangka panjang, yaitu Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek bila dibandingkan pada umumnya), Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya, Menurunnya kesehatan reproduksi, Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah
D. Cara Mencegah Stunting
Stunting dapat di cegah dengan hal-hal berikut:
1. Seorang wanita harus mengonsumsi nutrisi yang dibutuhkan sebelum dan selama hamil dan nutrisi yang dibutuhkan selama menyusui.
2. Memberikan nutrisi yang baik kepada Si Buah Hati, seperti memberikan ASI eksklusif dan nutrisi penting lainnya seiring pertambahan usia.
3. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat, terutama mencuci tangan sebelum makan, meminum air yang aman, mencuci peralatan makan dan peralatan dapur, membersihkan diri setelah buang air besar atau kecil, serta memiliki sanitasi yang ideal (toilet yang bersih).
4. Menjaga asupan nutrisi yang ideal dan bervariatif ditambah dengan perilaku hidup bersih dan sehat memegang peranan yang krusial bagi kesehatan ibu hamil, terutama bagi janin. Hal ini untuk mencegah terjadinya kekerdilan demi kelangsungan hidup anak dalam jangka pendek dan dalam jangka panjang yang sehat, serta untuk memastikan anak tumbuh menjadi orang dewasa yang kuat, terdidik, dan produktif.
E. Makanan yang di Rekomendasikan untuk Wanita Produktif
1. Sayuran Hijau
Berbagai sayuran hijau, seperti bayam, brokoli, dan sawi hijau, menyediakan serat yang dapat menjaga keseimbangan hormon di dalam tubuh. Makanan ini juga mengandung zat gizi lainnya, seperti vitamin E, kalsium, zat besi, coenzyme Q10, dan folat. Ketika diperlukan, vitamin E dapat membantu menebalkan dinding Rahim yang tipis. Ketebalan dinding rahim yang ideal penting untuk mendukung proses pembuahan.
2. Alpukat
Alpukat adalah buah untuk program hamil yang kaya akan kandungan folat, vitamin K, serta kalium. Vitamin K dan kalium dapat membantu tubuh menyerap zat gizi secara efektif, menjaga kadar hormon tetap seimbang, dan menstabilkan tekanan darah. Sementara itu, folat dibutuhkan untuk mendukung perkembangan otak dan saraf janin.
3. Telur
Selain tinggi kandungan protein, telur mengandung kolin yang dapat membantu meningkatkan kualitas folikel atau tempat tumbuhnya sel telur dalam ovarium. Telur juga mengandung vitamin B6 yang bagus untuk kesuburan. Vitamin ini bisa meningkatkan peluang untuk cepat hamil karena hubungannya dengan kadar homosistein di dalam tubuh. Homosistein adalah jenis asam amino yang dihasilkan saat tubuh memecah protein. Tingkatnya yang terlalu tinggi diketahui dapat memengaruhi ovulasi.
4. Madu
Madu bermanfaat untuk program hamil dan kesuburan karena kaya akan asam amino, khususnya arginin. Arginin dapat membantu meningkatkan fungsi ovarium sehingga bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan reproduksi wanita.

Comments
Post a Comment